Thursday, 12 December 2013

#2

#Darkovich Kingdom, El-Aqua
Darkovich kingdom ialah kediaman presiden yang terletak di sebuah negara bagian El-Aqua. Istana negara yang dilapisi marmer hitam ini dikelilingi batu-batu karang dan lautan. El-Aqua adalah pulau kecil yang berpisah dengan bagian daratan Neraou State. Namun penjagaan dan perlindungan di pulau ini sangat hebat. Saking hebatnya bahkan nyamukpun tak akan bisa memasuki kawasan ini.
Neraou State saat ini berada di bawah kepresidenan Centrino Mokalu yang dikenal ambisius. Ia sering menentang keputusan dewan senat yang tidak sesuai dengan keinginannya. Itulah sebabnya hubungan presiden dengan dewan senat tidak baik. Kediktatoran Centrino ditakutkan akan membawa Neraou State dalam kehancuran.

#Ruang Rapat, Darkovich Kingdom 10.30 PM
Sebuah meja panjang memisahkan barisan orang-orang berjas dan soldier-soldier. Seorang laki-laki duduk di kursi kulit sembari mengisap cerutu. Rambutnya klimis dan rapi. Garis-garis wajahnya tampak tegas menggambarkan kepribadiannya yang keras. Dengan mata birunya, ia mengamati satu-persatu wajah tamunya.
“Jadi itu tadi adalah strategi kita. Ada yang mau memberi tanggapan? Atau mungkin menolaknya?” pria itu mendekatkan wajahnya. Semua orang terdiam. Tampak ekspresi ketegangan di wajah mereka. “Baik! Aku anggap semua setuju. Tepat pukul 12 malam kita akan bergerak. Langkah pertama untuk menguasai dunia. Ha…ha…ha” Pria itu tertawa puas membayangkan keinginannya terwujud.
“Maaf pak presiden! Tapi bagaimana jika dewan senat atau dewan perlemen mengerahkan soldier-soldier mereka untuk menggagalkan rencana kita?” seorang pria berseragam soldier menghentikan tawa presiden.
Pria besar yang menghisap cerutu itu ternyata adalah presiden Neraou State. Ia berdehem dan mengambil sikap berdiri. “Itulah sebabnya mengapa aku melibatkanmu dalam misi ini. Kau punya pasukan kan bung? Gunakan mereka?...selain itu, aku masih memiliki satu aset lagi. Profesor Theode, kau sudah siap dengan rencana kita?”  presiden Centrino mengalihkan pandangannya ke arah sang profesor.
Profesor Theode hanya tersenyum menyembunyikan keraguannya. Wajahnya yang pucat membuatnya tampak lebih tua dari umurnya. “Apa itu Pak Presiden?” tanya seorang pria berjas kemudian. “Soldier baru…pasukan buatanku. Tak akan kalah oleh siapapun. Ha…ha…ha!”

#Komplek Green House, SCMA 11.26 PM
“Hoaahh…ngantuk banget nih!” Joel melemaskan badannya. “Dasar!! jam 11 udah ngantuk? Apa kata dunia?” Michele masih berdiri tegap menghadap Joel. “Wajar dong orang ngantuk. Pasti kamu ini ada keturunan kelelawar ya?”
“Maksudnya?”
Joel celingukan melihat keadaan sekitar. Sepi. “He…he…sudah sepi! Duduk ah..” Joel mengambil posisi duduk.
“Heh…melanggar aturan! Kalo jaga tuh berdiri dong.” Ujar Michele sewot.
“Eh, main tebak-tebakan yuk!” Joel mengacuhkan peringatan Michele. Michele hanya melirik tajam ke arah Joel. “Aku anggap kamu bilang iya…apa bahasa inggrisnya pasir yang bisa dipake?” Michele tidak menyahut. “Yaa…gitu aja nggak bisa. Satu…dua…tiga…tet-tot, waktu habis. Jawabannya sand…dal jepit. Wakaka…” Joel tampak puas dengan tebak-tebakannya yang garing itu.

#El-Aqua 12.00 AM
Beberapa pesawat tempur terbang mengitari pulau El-Aqua dan langsung pergi serempak menuju daratan Neraou State. Kurang lebih 10 pesawat terbang beriringan melakukan manuver-manuver di atas udara. Pesawat-pesawat itu mengambil jalur memutar melewati samudera Valtros dan masuk melewati gerbang barat Arkcoal. Cahaya malam yang redup membuat pesawat-pesawat itu tidak terlihat oleh mata telanjang, tetapi tidak demikian dengan radar.

#West Mercusuar,SCMA 12.26 AM
Menara pengawas SCMA mendapati 10 titik benda asing mendekati kawasan Arkcoal. “Pesawat apa ini?” ujar salah seorang pengawas. “Tidak dikenali! Jangan-jangan kita diserang…” teriak pengawas lain yang mengawasi melalui teropong. “Beritahu markas pusat kalau kita diserang. Keadaan darurat. Dalam 15 menit mereka akan sampai di SCMA.” Semua alat komunikasi dinyalakan dan berita tentang adanya penyusupan tersebar di semua departemen. “Beritahu pos penjagaan asrama Green House! Kita harus mengumpulkan mereka di lapangan utama.”

#Komplek Green House,SCMA 12.26 AM
“Tebakan berikutnya…Perhatikan ya! Ehm…ehm,beruang itu bear, kucing itu cat, anjing itu dog, kalo monyet?” ini adalah kesekian kalinya Joel memberikan tebakan-tebakan garingnya. Atau bisa dikatakan super duper garing pake banget. Michele menggeleng, tetapi lama kelamaan mulutnya terbuka juga. “Monkey!” jawabnya datar. “Monkey? Salah dong, kalo monyet itu ya …kamu.” Joel tertawa terbahak-bahak.
“Ting…Ting…Ting!” tiba-tiba sirine darurat berbunyi. Sebuah tombol merah berkedip-kedip. “Perhatian…di sini menara pengawas! Sekali lagi di sini menara pengawas! Kosongkan Green House sekarang! Ada beberapa pesawat tempur yang menyusup.” Interkom yang berada di dalam pos penjagaan bersuara.
“Ini simulasi?” Joel bangun dari posisi nyamannya. Dengan cepat Michele masuk ke dalam pos penjagaan diikuti Joel di belakangnya. “Sekali lagi… perhatian untuk pos penjagaan Green House. Kosongkan Green House sekarang! keadaan darurat!” interkom itu berbunyi lagi. “Siap! Di sini pos penjagaan. Perintah diterima. Siap laksanakan!” Michele menjawab perintah itu.
“Perhatian untuk seluruh warrer. Kosongkan asrama! Keadaan darurat. Kosongkan asrama! Keadaan darurat.” Michele langsung memberi tanda bahaya untuk penghuni asrama. Sirine panjang dibunyikan. Joel meletakkan lampu sorot di depan kompleks Green House kemudian menyalakannya.

“Praz…Praz…bangun!! Keadaan darurat. Bersiaplah! Kita akan meninggalkan Green House.”  Garry membangunkan Praz yang masih tertidur pulas. “Hoaahh…simulasi lagi?” Praz hanya merubah posisi tidurnya. “Eh…ini beneran! Apa saja bisa terjadi. Ayo bangun!” Praz langsung tersentak dan bangun dari tidurnya. “Ayo kita segera pergi!” Garry menenteng tas ransel birunya. “Aduh…kamu duluan deh! Aku kebelet buang air besar nih! Kamu sih ngagetin aku…” Praz buru-buru keluar dari kamarnya dan menuju toilet. Tinggalah Garry yang geleng-geleng tak mengerti.

“Michele, kau bisa bantu aku?” Joel terus mengamati pintu asrama Green House. “Apa?” Michele saat itu sedang memberi intruksi bagi para warrer. “Kau lindungi Suzanne, sepupuku. Dia gunner baru, tidak mengetahui tentang keadaan darurat semacam ini.”
“Joel…baiklah! Kita bertemu di lapangan tembak!” Michele tersenyum datar dan pergi meninggalkan Joel.
Michele pergi menuju asrama wanita tingkat 1 dan 2 untuk mencari keberadaan Suzanne. Ini bukanlah pekerjaan mudah. Berpuluh-puluh wanita berebut keluar dari asrama itu. “Tenang…tenang! Dengarkan intruksi! Jangan berebut! Anggap ini simulasi!” Michele tak tahan juga dengan kepanikan warrer-warrer yang berlebihan.

“Suzanne, ayo! Jangan buang-buang waktu!” Gelda menarik jas Suzanne. “Aduh…iya,iya. Aku harus membawa tas obat ini! Baik, sekarang…aku sudah siap!” Suzanne merapikan seragam putihnya dan langsung menjinjing tas obatnya. Tanpa pikir panjang Gelda langsung menarik jas suzanne lebih kencang dan membawanya lari.

“Suzanne…Suzanne…Suzanne!” Michele terus memanggil nama Suzanne di sepanjang lorong. Michele sempat terjatuh beberapa kali karena ulah para warrer yang ekstrim. “Suzanne…Suzanne…Hei sepupunya Joel Neveau!”
‘Glek’ Suzanne menghentikan langkahnya. “Suzanne..nggak ada waktu lagi.” Gelda kekeuh menarik jas Suzanne. “Sstt…eh ada yang manggil-manggil aku tuh!” mata suzanne menelusuri lorong asrama mencari arah suara. “Di sana!” kini tangan kurus Suzanne gantian menarik rambut panjang Gelda dan membawanya lari.
“Suzanne…Suzanne. Gila, ada berapa nama Suzanne di sini?” Michele mulai kelelahan. “Setahuku Cuma satu…Suzanne Zeeon!” tiba-tiba Suzanne berdiri di hadapan Michele yang lebih tinggi 15 cm dari dirinya. ‘wah, ganteng banget’ Suzanne senyum-senyum sendiri. “Kamu sepupunya Joel?” Suzanne mengangguk. “Ayo ikut aku!” Michele pun menarik tangan Suzanne. ‘waw tanganku dipegang. Hangat banget! Wihh…’ Suzanne pasrah saja pada ajakan Michele. “Eh…Aku? Suzanne. Tunggu dong! Aku jangan di tinggal dong!” Gelda menguntit di belakang Suzanne.

“Hei, kamu!” Joel memanggil seorang pria berperawakan tinggi besar. Saat itu suasana ricuh, para warrer berbondong-bondong keluar dari asrama. Joelpun mendesal diantara barisan warrer untuk menghampiri pria itu. “Hei, kau teman sekamarnya Prazkan? Mana dia?” Pria yang bernama Garry itu tidak memperlambat langkahnya, bahkan ia tidak menjawab pertanyaan Joel. Joel yang kesal langsung menghentikan langkahnya dan misuh-misuh di belakang. “Woi…jangan berhenti woi!” tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari belakang Joel. “Maaf…maaf!” Joel senyum-senyum nggak tentu dan menepi ke sisi lorong.
“Praz…Praz!” Joel terus mencari keberadaan Praz. “Buset! Itu manusia apa setan ya? Kok nggak keliatan sih!” setengah kesal Joel asal-asalan mengetuk pintu. “Praz Madden…dimana dirimu berada? Heahh…” kini langkah kaki Joel lebih lambat.
“E’…e’…e’…” Joel melewati toilet asrama dan tanpa sadar mendengar suara aneh itu. ‘Glek’ Joel kembali ke depan toilet dan mendengarkan lebih seksama. “E’…e’…e’…ahhh!” sebuah suara unik yang begitu nyata. ‘jangan-jangan?!’. “Praz Madden! Itu kamu?” teriak Joel dari luar toilet.
“E’..e’..iya!! aduh…sebentar!” terdengar jawaban Praz dari dalam toilet. “Ini keadaan genting tahu. Sempat-sempatnya kamu BAB disaat seperti ini. Kamu tahu? Pesawat tempur asing memasuki wilayah Arkcoal dan…” Joel berhenti bicara setelah mulutnya dibekap oleh Praz. “Lebih genting lagi kalo aku sampe be’ol di celana. Ayo kalo gitu!” Praz melepaskan tangannya dari mulut Joel. “Ehm…kok baunya aneh! Udah cuci tangan?!”

Tuesday, 26 November 2013

#1

Neraou State adalah sebuah negara besar yang terkenal dengan pembangunannya. Pembangunan ini merata di 2 wilayah negara, wilayah daratan Neraou dan wilayah kepulauan. Ada 18 negara bagian di Neraou State. Negara-negara bagian itu memiliki tata kota yang begitu indah. Desain dan arsitekturnya dipadukan dengan tekhnologi canggih untuk memperindah kota.
Negara ini menganut sistem pemerintahan liberal yang berbentuk republik. Sebelumnya Neraou State berbentuk monarchi absolut dengan raja Roque II sebagai penguasa terakhir.
Akan tetapi 40 tahun yang lalu setelah raja Roque wafat  terjadi perebutan kekuasaan antara putra mahkota I dan II. Perebutan kekuasaan ini mengakibatkan kedua putra mahkota meninggal. Akhirnya selama 3 tahun terjadi kekosongan pemerintahan sehingga parlemen dan rakyat memutuskan untuk mengubah bentuk pemerintahan.

Pusat pendidikan militer Neraou State terletak di negara bagian Arkcoal. Negara ini adalah satu-satunya negara bagian yang masih berupa hutan belantara. Selain itu masyarakatnya pun masih primitif. Mereka tidak bisa keluar dari wilayah ini. Hal ini dikarenakan Arkcoal memang daerah yang terisolir. Keadaan geografisnyalah yang membatasi negara ini dengan  negara bagian lain.
Arkcoal memiliki satu ikon penting negara. Di Arkcoal terdapat pusat pendidikan militer negara bernama State Cromwell of Millitary Academy atau sering disebut SCMA. Setiap tahunnya ratusan remaja berumur 15 tahun diseleksi untuk masuk ke akademi ini. Butuh prestasi dan tekad yang tinggi agar bisa terdaftar di akademi militer ini. Pasalnya, lulusan dari SCMA memiliki masa depan yang menjajikan. Mereka tidak harus berkecimpung di dunia militer saja. Mereka juga bisa terjun ke dunia politik, ekonomi, bahkan pendidikan.

Jauh dari Arkcoal, terdapat negara bagian lain yang lebih kecil. Saint Laurent, tempat dimana pahlawan-pahlawan negara ini disemayamkan. Salah satu pahlawan yang paling dihormati adalah komandan besar Centjavles. Komandan angkatan laut ini berhasil melindungi daerah kepulauan Neraou State dari invasi negara lain. Ia sangat tangguh di perairan dan ditakuti beberapa puluh tahun yang lalu. Komandan besar Centjavles juga ikut andil dalam pembentukan State Cromwell of Millitary Academy. Tidak heran jika ia mewajibkan setiap keturunannya untuk bersekolah di SCMA. Mereka harus bisa masuk SCMA dengan kemampuan mereka sendiri. Ajaibnya, sebagian besar keturunannya berhasil mengenyam pendidikan di akademi militer ini.
                                                                                                                                      
#SCMA 08.15 PM
State Cromwell of Millitary Academy memiliki beberapa asrama. Asrama-asrama itu dijadikan satu kompleks bernama Green House. Green House merupakan gedung bertingkat berwarna hijau. Pada malam hari penghuni Green House tidak boleh berkeliaran di luar asrama tanpa izin khusus.
Namun tampaknya tidak semua orang mematuhinya. Di belakang Green house 2 orang warrer turun dari jendela perlahan-lahan. Warrer adalah sebutan untuk murid akademi ini. Mereka mengendap-endap menyeberang ke gedung sebelah.
Lampu sorot berputar di menara pengawas SCMA sampai ke kompleks Green House. “Joel, cepat kau masuk menemui sepupumu itu!!” seorang remaja berambut cokelat berbisik pada temannya. Joelpun membuka jendela perlahan-lahan dan melompatinya. Kemudian ia mengulurkan tangannya dan menarik kawannya.
Setelah remaja berambut cokelat itu berhasil masuk kedalam asrama, merekapun merapat ke sisi tembok. “Michele, kau bawa bintangnya kan?” Joel melepas kacamatanya. Joel adalah remaja berumur 17 tahun yang merupakan warrer tingkat 3 bagian tekhnis perang. Michele mengangguk kemudian mengambil sesuatu dari sakunya. Ia mengeluarkan 6 buah tanda bintang berwarna merah. Joelpun mengambil 3 dan menyematkannya pada seragam hijaunya. “Ayo, sekarang kita adalah warrer tingkat 6!!” Joel berdiri diikuti Michele di belakangnya, kemudian mereka berjalan menuju kamar nomer 153.
Gedung yang dimasuki Joel dan Michele adalah asrama putra untuk warrer tingkat 5 dan 6. Setiap tingkatan dibedakan dengan jumlah bintang pada seragam warrer. Sehingga Joel dan Michele butuh beberapa bintang lagi untuk menyamar.
Joel menyusuri lorong di lantai 2 menuju kamar sepupunya. Michele berjalan di belakangnya. Mereka berusaha seakrab mungkin dengan warrer lain. Setelah sampai di ujung lorong, Joelpun berhenti dan menyapa seorang pria berbadan kurus. Rambutnya yang hitam dipotong cepak dan rapi. Kulitnya putih dan ada tahi lalat kecil di sebelah kiri hidungnya. Ia sedang duduk-duduk bersama kawannya di depan kamar. “Hai Praz, apa kabar ? semua baik-baiuk aja kan ??” ujar Joel sembari menaikturunkan alisnya.
Praz menoleh perlahan. Ia tersenyum melihat sosok sepupunya yang berjalan mendekatinya. Joel memiliki kulit sawo matang dan rambut berwarna hitam. Badannya tinggi tegap namun agak kurus. “Hiii…sok perhatian!! Jadi merinding.” Praz mencibir sambil meraba tengkuknya. Joel mengulurkan tangan kanannya pada Praz dan membantunya berdiri. Kemudian mereka berdua bersalaman plus cipika-cipiki. “Ada Apa?” tanya Praz dengan wajah malas.
“Sudah dapat kabar dari nenek?” Joel sesekali melirik ke arah teman sekamar Praz yang tampak dingin. “Nenek? Belum!! Tentang apa?” Praz memasukkan telapak tangannya ke saku celananya. “Tahun ini adikmu Suzanne akan masuk ke SCMA.” Joel mengeluarkan secarik foto dari saku celananya. Praz mengambil foto itu dan mengamatinya dengan seksama. “Ini Suzanne?” Joel hanya mengangguk.
“Sudah 2 tahun aku tidak pulang ke Saint Laurent. Tahu-tahu si kurus Suzanne sudah berumur 15 tahun. Tapi…emang bener dia mau masuk ke sini juga?? Bukannya dia ingin masuk akademi negara?” Ekspresi Praz begitu kecut dan seakan tidak mempercayainya.
“Ya karena ini adalah kewajiban bagi setiap keturunan komandan besar Centjavles. Dengar-dengar dia juga seorang gunner lho.” Praz mengerutkan dahi. Joel tersenyum sambil celingukan melihat keadaan di lorong itu. Sepi. “Gunner? Prestasinya apa?” Joel hanya menggeleng.


#Saint Laurent 07.00 AM
Ini hari pertama Suzanne masuk sekolah. Sekarang cewek berambut keriting ini sedang duduk di halte bus Saint Laurent menunggu bus jemputan SCMA. Ia memakai jas formal putih, celana putih, dan dasi putih…so putih, so bersih. Di sampingnya berdiri tas perjalanan kulit berwarna hitam dan beberapa tas kecil di atasnya. Rencananya Suzanne akan mengambil jurusan kesehatan dan pengobatan. Ini adalah satu-satunya keahliannya, jika ia tidak ahli di bidang ini dapat dipastikan ia tidak akan bisa masuk SCMA.
Bus yang ditunggu akhirnya datang juga. Bus itu mendekat ke pintu halte dan mendarat dengan 4 rodanya. Roda itu keluar dari sela-sela bemper bus. Dengan anggun Suzanne mengangkat semua tas-tasnya kemudian menaiki tangga halte. Pintu haltepun terbuka. Ia bersama beberapa orang lain naik ke bus. Setelah semua penumpang sudah naik, bus itupun mengeluarkan 4 afronya dan kembali melayang di udara. Afro adalah salah satu onderdil mobil yang dapat mengeluarkan angin dan mengendalikan gravitasi terhadap mobil itu.
Di dalam bus ia bisa merasakan semua mata tertuju padanya. Apalagi alasannya selain karena ia adalah seorang gunner. Gunner adalah sebutan bagi warrer yang berhasil masuk ke SCMA lewat jalur khusus.
Suzanne duduk di kursi paling depan di sebelah gadis berkacamata. “Hai…kau gunner ya?” sapa gadis itu ramah. “Darimana kamu tahu?” Suzanne melongo dan tanpa sadar memperlihatkan wajah dongonya. “Hanya gunner yang sudah diberi seragam formal saat awal masuk!”  gadis itu tersenyum, senyumannya hangat dan manis. “Jadi?? Kukira semua memilikinya. Malah ku kira aku salah kostum.” Suzanne tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri. “Dan hanya gunner yang sudah mendapatkan kelas disaat yang lain menempuh ujian pembagian kelas.” Suzanne mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali tanda mengerti.
“Gelda...Gelda Ana Sophia.” Gadis berkacamata itu menjulurkan tangan kanannya. Suzanne terhenyak sesaat dan sesegera mungkin menjabat tangan Gelda. “Oh…namaku Suzanne Zeeon. Senang berkenalan denganmu.” Sejak saat itu Suzanne dan Gelda bercengkrama di sepanjang perjalanan.   

#Arkcoal 12.05 PM
SCMA terletak di negara bagian Arkcoal yang hijau. Negara bagian ini jauh dari tekhnologi canggih seperti yang dimiliki negara bagian lain. Arkcoal adalah pusat pendidikan militer Neraou State, itu sebabnya tempat ini sangat terpencil. Disepanjang jalan menuju SCMA, para calon warrer disuguhi pemandangan hijau yang alami. Tidak ada gedung-gedung pencakar langit, tidak ada kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang, dan tidak ada LCD besar tempat iklan produk makanan atau minuman.
“Wah ini sih hutan belantara.” salah seorang penumpang bus  setengah mengeluh. ‘emang kamu pikir kita mau shooping!’ ujar Suzanne dalam hati. “Disini ada binatang liarnya nggak ya?” saut penumpang lain. ‘banyak kali, kamu salah satunya.’ Jawab Suzanne lagi.
“Suzanne sudah pernah ke sini sebelumnya?” Gelda mengalihkan pandangannya dari jedela bus. Suzanne menggeleng. “Kok kesannya kamu nggak terkejut melihat pemandangan langka ini. Inikan eksklusif !?” Gelda mengerutkan dahinya seakan menganggap Suzanne adalah makhluk yang aneh. “Eum…soalnya aku lagi asyik baca nih!!” Suzanne tak mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya. “Majalah?? Seorang gunner ternyata suka baca majalah fashion?” Gelda mengerutkan dahi lebih dalam dan senyuman kecil di sudut bibirnya. “He-eh! Emang nggak boleh? Tahu nggak majalah ini tu edisi khusus tahunan low, jadi aku harus membacanya.” Suzanne mengepalkan tangannya dan begitu menggebu. Sedangkan Gelda hanya tertawa garing menanggapi jawaban  itu.

#Lapangan utama, SCMA 12.36 PM
“Satu…dua…tiga…hei, tanganmu yang benar!” seorang feyer berperawakan tinggi besar berjalan mondar-mandirdi hadapan beberapa warrer yang sedang push up. Feyer adalah sebutan untuk para guru di akademi ini. Beberapa warrer sedang dihukum karena keterlambatan mereka. Ada 7 warrer yang menjalani hukuman itu.
Salah satunya ialah warrer dari tingkat 6 bagian strategi perang, Praz Madden. “Kau! Dalam minggu ini kau sudah di hukum berapa kali?” sang feyer mengacungkan tongkatnya  ke wajah Praz. “9 Pak!” Praz terus berpush up ria. “Satu minggu hanya ada 7 hari, tapi kau sudah dihukum sebanyak itu? Apa kata warrer baru jika mengetahui hal ini?” feyer itu memukul-mukulkan ujung tongkatnya ke kepala Praz. “Jangan bilang-bilang dong Pak!” warrer lain menahan tawa. “Kamu itu contoh warrer pemalas! Aku bingung kenapa kamu bisa menjadi gunner waktu itu. Apa karena kau keturunan komandan besar Centjavles?”
Praz menghentikan push upnya. Wajahnya merah menahan emosi. “Maaf Mr.Bourgh, tapi jangan bawa-bawa nama kakek saya. Saya menjadi gunner atas usaha saya sendiri. Saya mendapatkan lencana penghargaan saat menjadi relawan di gunung Alboras.” Dengan berani Praz menjawab sindiran sang feyer. “Kau! Pergi dari hadapanku! Kau tidak diizinkan mengikuti kelasku hari ini.” Praz mengambil jaket seragamnya. “Terimakasih. Sebenarnya saya juga tidak tertarik pada pelajaran politik nasional bapak. Itu hanya teori yang semua orang bisa baca di buku.”  Praz meninggalkan sang feyer yang tertohok tak mengerti. ‘benarkah?’ pikirnya dalam hati.

#Hall Room, SCMA 01.20 PM
Joel Neveau berdiri di pintu hall room untuk menyambut kedatangan para gunner baru. Ini adalah semacam tradisi untuk memperkenalkan sesama gunner antar angkatan. Satu persatu para gunner memasuki hall room. Jas mereka berbeda-beda. Hijau untuk bagian tekhnis perang, biru tua untuk strategi perang, putih untuk kesehatan dan pengobatan, hitam untuk intel/mata-mata, dan lain-lain. Ada sekitar 25 gunner baru yang memasuki hall room berbentuk segilima itu.
“Selamat datang para gunner baru…” seorang feyer berseragam soldier memberi sambutan di atas mimbar. Joel sesekali melirik arloji di tangannya. Ia tampak sedang gelisah menunggu sepupunya.
“Gunner bukan hanya sebagai suatu kebanggaan. Tugas kalian lebih berat dari warrer biasa…” pidato sang feyer  menggebu-gebu. Dari kejauhan Joel mendapati sepupunya Praz berlari ke arahnya. “Eh Brow, darimana? Boker dulu ya?” tanya si Joel sekenanya. “Tadi aku nyariin seragam ini dulu.” Jawab Praz dengan nafas tersengal-sengal.
“Nah,itu kamu dapet darimana?”
“Setelah mencari berjam-jam, akhirnya aku temuin juga di bawah kasurku.” Mata Praz mulai berpatroli keliling ruangan. “Kasur??”
“Iya, kasur di asrama tipis banget. Jadi aku pake beberapa baju yang nggak dipake sebagai alas kasur, jadi agak tebalan dikit lah. Lagian nggak pernah dipake juga.” Jawab Praz tanpa rasa bersalah. “Yuk, kita duduk. Berdiri aja, kayak tiang listrik.” Lanjut Praz yang kemudian  berjalan menuju barisan gunner. “Kasur??” Joel masih tidak mengerti dengan penjelasan Praz.
“Sst..sst..” Praz memanggil Suzanne yang duduk di deretan paling belakang. “Hei keriting…! Heh..heh!” bisik Praz lagi karena Suzanne tidak bergeming. “Hei anak ingusan. Heh bocah lidi!” Suzanne tetap fokus pada sambutan kepala asrama. “Suzanne..suzanne keriting.” Kali ini suara Praz agak keras sehingga tidak hanya Suzanne yang menoleh tetapi yang lain juga.
Praz hanya senyum-senyum setelah tahu dirinya diliatin para gunner. “Apa?” Suzanne menjawab panggilan Praz setelah suasana kembali tenang. “Kamu gunner juga?” Tanya Praz dengan suara lirih. “Hah? Nggak denger..” Suzanne meletakkan telapak tangannya di telinganya. “Kamu gunner?” bisik Praz lagi. “Hah? Bukan..aku ini masuk jurusan pengobatan bukan intel.”
‘GEDUBRAK’ Praz terjatuh dari kursinya. Dengan wajah penuh kekecewaan ia kembali duduk di kursinya. “Ya tuhan, apa kesalahan keluargaku. Kenapa kami bisa punya anggota seperti dia.” Bisik Praz lirih. “Hah? Kamu ngomong sama aku? Iya..tadi aku udah makan.” Jawab Joel yang duduk persis di samping Praz. ????

#Komplek Green House, SCMA 10.09 PM
Udara malam yang dingin menyelimuti SCMA. Suara binatang-binatang malam bersaut-sautan. Suasana pada malam itu seram sekali. hanya ada beberapa mobil penjaga yang berlalulalang di depan asrama.
“Gila! Mending tadi aku jaga di dalam asrama aja ya?” keluh Joel yang berdiri tegap di pos penjagaan Green House. “Nyesel? Tadi siapa coba yang usul untuk jaga di luar?” Tanya seorang warrer lain. Warrer di hadapan Joel itu berambut coklat pendek dan badannya kurus. “Ya sih…kalo nggak gini kan kita nggak akan ketemu. Kitakan beda asrama, ya kan Michele?” Joel tersenyum genit. “Hii, nggak napsu deh. Tahun ini ada saudaramu yang masuk SCMA ya?” tanya warrer bernama Michele itu.
“Yo’a…kok tahu?”
“Tahu aja!”
“Sok tahu..” pembicaraanpun terhenti dan mereka berduapun tertawa.
 “Cewek atau cowok?” tanya Michele kemudian. “Cewek. Jangan naksir lho!” Joel memicingkan mata seakan mengancam. “Eum…gimana ya? Liat aja entar!” Michele menjawabnya dengan senyuman mematikan.