Thursday, 12 December 2013

#2

#Darkovich Kingdom, El-Aqua
Darkovich kingdom ialah kediaman presiden yang terletak di sebuah negara bagian El-Aqua. Istana negara yang dilapisi marmer hitam ini dikelilingi batu-batu karang dan lautan. El-Aqua adalah pulau kecil yang berpisah dengan bagian daratan Neraou State. Namun penjagaan dan perlindungan di pulau ini sangat hebat. Saking hebatnya bahkan nyamukpun tak akan bisa memasuki kawasan ini.
Neraou State saat ini berada di bawah kepresidenan Centrino Mokalu yang dikenal ambisius. Ia sering menentang keputusan dewan senat yang tidak sesuai dengan keinginannya. Itulah sebabnya hubungan presiden dengan dewan senat tidak baik. Kediktatoran Centrino ditakutkan akan membawa Neraou State dalam kehancuran.

#Ruang Rapat, Darkovich Kingdom 10.30 PM
Sebuah meja panjang memisahkan barisan orang-orang berjas dan soldier-soldier. Seorang laki-laki duduk di kursi kulit sembari mengisap cerutu. Rambutnya klimis dan rapi. Garis-garis wajahnya tampak tegas menggambarkan kepribadiannya yang keras. Dengan mata birunya, ia mengamati satu-persatu wajah tamunya.
“Jadi itu tadi adalah strategi kita. Ada yang mau memberi tanggapan? Atau mungkin menolaknya?” pria itu mendekatkan wajahnya. Semua orang terdiam. Tampak ekspresi ketegangan di wajah mereka. “Baik! Aku anggap semua setuju. Tepat pukul 12 malam kita akan bergerak. Langkah pertama untuk menguasai dunia. Ha…ha…ha” Pria itu tertawa puas membayangkan keinginannya terwujud.
“Maaf pak presiden! Tapi bagaimana jika dewan senat atau dewan perlemen mengerahkan soldier-soldier mereka untuk menggagalkan rencana kita?” seorang pria berseragam soldier menghentikan tawa presiden.
Pria besar yang menghisap cerutu itu ternyata adalah presiden Neraou State. Ia berdehem dan mengambil sikap berdiri. “Itulah sebabnya mengapa aku melibatkanmu dalam misi ini. Kau punya pasukan kan bung? Gunakan mereka?...selain itu, aku masih memiliki satu aset lagi. Profesor Theode, kau sudah siap dengan rencana kita?”  presiden Centrino mengalihkan pandangannya ke arah sang profesor.
Profesor Theode hanya tersenyum menyembunyikan keraguannya. Wajahnya yang pucat membuatnya tampak lebih tua dari umurnya. “Apa itu Pak Presiden?” tanya seorang pria berjas kemudian. “Soldier baru…pasukan buatanku. Tak akan kalah oleh siapapun. Ha…ha…ha!”

#Komplek Green House, SCMA 11.26 PM
“Hoaahh…ngantuk banget nih!” Joel melemaskan badannya. “Dasar!! jam 11 udah ngantuk? Apa kata dunia?” Michele masih berdiri tegap menghadap Joel. “Wajar dong orang ngantuk. Pasti kamu ini ada keturunan kelelawar ya?”
“Maksudnya?”
Joel celingukan melihat keadaan sekitar. Sepi. “He…he…sudah sepi! Duduk ah..” Joel mengambil posisi duduk.
“Heh…melanggar aturan! Kalo jaga tuh berdiri dong.” Ujar Michele sewot.
“Eh, main tebak-tebakan yuk!” Joel mengacuhkan peringatan Michele. Michele hanya melirik tajam ke arah Joel. “Aku anggap kamu bilang iya…apa bahasa inggrisnya pasir yang bisa dipake?” Michele tidak menyahut. “Yaa…gitu aja nggak bisa. Satu…dua…tiga…tet-tot, waktu habis. Jawabannya sand…dal jepit. Wakaka…” Joel tampak puas dengan tebak-tebakannya yang garing itu.

#El-Aqua 12.00 AM
Beberapa pesawat tempur terbang mengitari pulau El-Aqua dan langsung pergi serempak menuju daratan Neraou State. Kurang lebih 10 pesawat terbang beriringan melakukan manuver-manuver di atas udara. Pesawat-pesawat itu mengambil jalur memutar melewati samudera Valtros dan masuk melewati gerbang barat Arkcoal. Cahaya malam yang redup membuat pesawat-pesawat itu tidak terlihat oleh mata telanjang, tetapi tidak demikian dengan radar.

#West Mercusuar,SCMA 12.26 AM
Menara pengawas SCMA mendapati 10 titik benda asing mendekati kawasan Arkcoal. “Pesawat apa ini?” ujar salah seorang pengawas. “Tidak dikenali! Jangan-jangan kita diserang…” teriak pengawas lain yang mengawasi melalui teropong. “Beritahu markas pusat kalau kita diserang. Keadaan darurat. Dalam 15 menit mereka akan sampai di SCMA.” Semua alat komunikasi dinyalakan dan berita tentang adanya penyusupan tersebar di semua departemen. “Beritahu pos penjagaan asrama Green House! Kita harus mengumpulkan mereka di lapangan utama.”

#Komplek Green House,SCMA 12.26 AM
“Tebakan berikutnya…Perhatikan ya! Ehm…ehm,beruang itu bear, kucing itu cat, anjing itu dog, kalo monyet?” ini adalah kesekian kalinya Joel memberikan tebakan-tebakan garingnya. Atau bisa dikatakan super duper garing pake banget. Michele menggeleng, tetapi lama kelamaan mulutnya terbuka juga. “Monkey!” jawabnya datar. “Monkey? Salah dong, kalo monyet itu ya …kamu.” Joel tertawa terbahak-bahak.
“Ting…Ting…Ting!” tiba-tiba sirine darurat berbunyi. Sebuah tombol merah berkedip-kedip. “Perhatian…di sini menara pengawas! Sekali lagi di sini menara pengawas! Kosongkan Green House sekarang! Ada beberapa pesawat tempur yang menyusup.” Interkom yang berada di dalam pos penjagaan bersuara.
“Ini simulasi?” Joel bangun dari posisi nyamannya. Dengan cepat Michele masuk ke dalam pos penjagaan diikuti Joel di belakangnya. “Sekali lagi… perhatian untuk pos penjagaan Green House. Kosongkan Green House sekarang! keadaan darurat!” interkom itu berbunyi lagi. “Siap! Di sini pos penjagaan. Perintah diterima. Siap laksanakan!” Michele menjawab perintah itu.
“Perhatian untuk seluruh warrer. Kosongkan asrama! Keadaan darurat. Kosongkan asrama! Keadaan darurat.” Michele langsung memberi tanda bahaya untuk penghuni asrama. Sirine panjang dibunyikan. Joel meletakkan lampu sorot di depan kompleks Green House kemudian menyalakannya.

“Praz…Praz…bangun!! Keadaan darurat. Bersiaplah! Kita akan meninggalkan Green House.”  Garry membangunkan Praz yang masih tertidur pulas. “Hoaahh…simulasi lagi?” Praz hanya merubah posisi tidurnya. “Eh…ini beneran! Apa saja bisa terjadi. Ayo bangun!” Praz langsung tersentak dan bangun dari tidurnya. “Ayo kita segera pergi!” Garry menenteng tas ransel birunya. “Aduh…kamu duluan deh! Aku kebelet buang air besar nih! Kamu sih ngagetin aku…” Praz buru-buru keluar dari kamarnya dan menuju toilet. Tinggalah Garry yang geleng-geleng tak mengerti.

“Michele, kau bisa bantu aku?” Joel terus mengamati pintu asrama Green House. “Apa?” Michele saat itu sedang memberi intruksi bagi para warrer. “Kau lindungi Suzanne, sepupuku. Dia gunner baru, tidak mengetahui tentang keadaan darurat semacam ini.”
“Joel…baiklah! Kita bertemu di lapangan tembak!” Michele tersenyum datar dan pergi meninggalkan Joel.
Michele pergi menuju asrama wanita tingkat 1 dan 2 untuk mencari keberadaan Suzanne. Ini bukanlah pekerjaan mudah. Berpuluh-puluh wanita berebut keluar dari asrama itu. “Tenang…tenang! Dengarkan intruksi! Jangan berebut! Anggap ini simulasi!” Michele tak tahan juga dengan kepanikan warrer-warrer yang berlebihan.

“Suzanne, ayo! Jangan buang-buang waktu!” Gelda menarik jas Suzanne. “Aduh…iya,iya. Aku harus membawa tas obat ini! Baik, sekarang…aku sudah siap!” Suzanne merapikan seragam putihnya dan langsung menjinjing tas obatnya. Tanpa pikir panjang Gelda langsung menarik jas suzanne lebih kencang dan membawanya lari.

“Suzanne…Suzanne…Suzanne!” Michele terus memanggil nama Suzanne di sepanjang lorong. Michele sempat terjatuh beberapa kali karena ulah para warrer yang ekstrim. “Suzanne…Suzanne…Hei sepupunya Joel Neveau!”
‘Glek’ Suzanne menghentikan langkahnya. “Suzanne..nggak ada waktu lagi.” Gelda kekeuh menarik jas Suzanne. “Sstt…eh ada yang manggil-manggil aku tuh!” mata suzanne menelusuri lorong asrama mencari arah suara. “Di sana!” kini tangan kurus Suzanne gantian menarik rambut panjang Gelda dan membawanya lari.
“Suzanne…Suzanne. Gila, ada berapa nama Suzanne di sini?” Michele mulai kelelahan. “Setahuku Cuma satu…Suzanne Zeeon!” tiba-tiba Suzanne berdiri di hadapan Michele yang lebih tinggi 15 cm dari dirinya. ‘wah, ganteng banget’ Suzanne senyum-senyum sendiri. “Kamu sepupunya Joel?” Suzanne mengangguk. “Ayo ikut aku!” Michele pun menarik tangan Suzanne. ‘waw tanganku dipegang. Hangat banget! Wihh…’ Suzanne pasrah saja pada ajakan Michele. “Eh…Aku? Suzanne. Tunggu dong! Aku jangan di tinggal dong!” Gelda menguntit di belakang Suzanne.

“Hei, kamu!” Joel memanggil seorang pria berperawakan tinggi besar. Saat itu suasana ricuh, para warrer berbondong-bondong keluar dari asrama. Joelpun mendesal diantara barisan warrer untuk menghampiri pria itu. “Hei, kau teman sekamarnya Prazkan? Mana dia?” Pria yang bernama Garry itu tidak memperlambat langkahnya, bahkan ia tidak menjawab pertanyaan Joel. Joel yang kesal langsung menghentikan langkahnya dan misuh-misuh di belakang. “Woi…jangan berhenti woi!” tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari belakang Joel. “Maaf…maaf!” Joel senyum-senyum nggak tentu dan menepi ke sisi lorong.
“Praz…Praz!” Joel terus mencari keberadaan Praz. “Buset! Itu manusia apa setan ya? Kok nggak keliatan sih!” setengah kesal Joel asal-asalan mengetuk pintu. “Praz Madden…dimana dirimu berada? Heahh…” kini langkah kaki Joel lebih lambat.
“E’…e’…e’…” Joel melewati toilet asrama dan tanpa sadar mendengar suara aneh itu. ‘Glek’ Joel kembali ke depan toilet dan mendengarkan lebih seksama. “E’…e’…e’…ahhh!” sebuah suara unik yang begitu nyata. ‘jangan-jangan?!’. “Praz Madden! Itu kamu?” teriak Joel dari luar toilet.
“E’..e’..iya!! aduh…sebentar!” terdengar jawaban Praz dari dalam toilet. “Ini keadaan genting tahu. Sempat-sempatnya kamu BAB disaat seperti ini. Kamu tahu? Pesawat tempur asing memasuki wilayah Arkcoal dan…” Joel berhenti bicara setelah mulutnya dibekap oleh Praz. “Lebih genting lagi kalo aku sampe be’ol di celana. Ayo kalo gitu!” Praz melepaskan tangannya dari mulut Joel. “Ehm…kok baunya aneh! Udah cuci tangan?!”

No comments:

Post a Comment