Neraou State adalah sebuah negara besar yang terkenal
dengan pembangunannya. Pembangunan ini merata di 2 wilayah negara, wilayah
daratan Neraou dan wilayah kepulauan. Ada 18 negara bagian di Neraou State. Negara-negara
bagian itu memiliki tata kota yang begitu indah. Desain dan arsitekturnya
dipadukan dengan tekhnologi canggih untuk memperindah kota.
Negara ini menganut sistem pemerintahan liberal yang
berbentuk republik. Sebelumnya Neraou State berbentuk monarchi absolut dengan
raja Roque II sebagai penguasa terakhir.
Akan tetapi 40 tahun yang lalu setelah raja Roque
wafat terjadi perebutan kekuasaan antara
putra mahkota I dan II. Perebutan kekuasaan ini mengakibatkan kedua putra
mahkota meninggal. Akhirnya selama 3 tahun terjadi kekosongan pemerintahan
sehingga parlemen dan rakyat memutuskan untuk mengubah bentuk pemerintahan.
Pusat pendidikan militer Neraou State terletak di negara
bagian Arkcoal. Negara ini adalah satu-satunya negara bagian yang masih berupa
hutan belantara. Selain itu masyarakatnya pun masih primitif. Mereka tidak bisa
keluar dari wilayah ini. Hal ini dikarenakan Arkcoal memang daerah yang
terisolir. Keadaan geografisnyalah yang membatasi negara ini dengan negara bagian lain.
Arkcoal memiliki satu ikon penting negara. Di Arkcoal
terdapat pusat pendidikan militer negara bernama State Cromwell of Millitary
Academy atau sering disebut SCMA. Setiap tahunnya ratusan remaja berumur 15
tahun diseleksi untuk masuk ke akademi ini. Butuh prestasi dan tekad yang
tinggi agar bisa terdaftar di akademi militer ini. Pasalnya, lulusan dari SCMA
memiliki masa depan yang menjajikan. Mereka tidak harus berkecimpung di dunia
militer saja. Mereka juga bisa terjun ke dunia politik, ekonomi, bahkan
pendidikan.
Jauh dari Arkcoal, terdapat negara bagian lain yang
lebih kecil. Saint Laurent, tempat dimana pahlawan-pahlawan negara ini
disemayamkan. Salah satu pahlawan yang paling dihormati adalah komandan besar
Centjavles. Komandan angkatan laut ini berhasil melindungi daerah kepulauan
Neraou State dari invasi negara lain. Ia sangat tangguh di perairan dan
ditakuti beberapa puluh tahun yang lalu. Komandan besar Centjavles juga ikut
andil dalam pembentukan State Cromwell of Millitary Academy. Tidak heran jika
ia mewajibkan setiap keturunannya untuk bersekolah di SCMA. Mereka harus bisa
masuk SCMA dengan kemampuan mereka sendiri. Ajaibnya, sebagian besar
keturunannya berhasil mengenyam pendidikan di akademi militer ini.
#SCMA 08.15 PM
State Cromwell of Millitary Academy memiliki beberapa
asrama. Asrama-asrama itu dijadikan satu kompleks bernama Green House. Green
House merupakan gedung bertingkat berwarna hijau. Pada malam hari penghuni
Green House tidak boleh berkeliaran di luar asrama tanpa izin khusus.
Namun tampaknya tidak semua orang mematuhinya. Di
belakang Green house 2 orang warrer turun dari jendela perlahan-lahan. Warrer adalah
sebutan untuk murid akademi ini. Mereka mengendap-endap menyeberang ke gedung
sebelah.
Lampu sorot berputar di menara pengawas SCMA sampai ke
kompleks Green House. “Joel, cepat kau masuk menemui sepupumu itu!!” seorang
remaja berambut cokelat berbisik pada temannya. Joelpun membuka jendela
perlahan-lahan dan melompatinya. Kemudian ia mengulurkan tangannya dan menarik
kawannya.
Setelah remaja berambut cokelat itu berhasil masuk
kedalam asrama, merekapun merapat ke sisi tembok. “Michele, kau bawa bintangnya
kan?” Joel melepas kacamatanya. Joel adalah remaja berumur 17 tahun yang
merupakan warrer tingkat 3 bagian tekhnis perang. Michele mengangguk kemudian
mengambil sesuatu dari sakunya. Ia mengeluarkan 6 buah tanda bintang berwarna
merah. Joelpun mengambil 3 dan menyematkannya pada seragam hijaunya. “Ayo,
sekarang kita adalah warrer tingkat 6!!” Joel berdiri diikuti Michele di
belakangnya, kemudian mereka berjalan menuju kamar nomer 153.
Gedung yang dimasuki Joel dan Michele adalah asrama putra
untuk warrer tingkat 5 dan 6. Setiap tingkatan dibedakan dengan jumlah bintang pada
seragam warrer. Sehingga Joel dan Michele butuh beberapa bintang lagi untuk
menyamar.
Joel menyusuri lorong di lantai 2 menuju kamar
sepupunya. Michele berjalan di belakangnya. Mereka berusaha seakrab mungkin
dengan warrer lain. Setelah sampai di ujung lorong, Joelpun berhenti dan
menyapa seorang pria berbadan kurus. Rambutnya yang hitam dipotong cepak dan
rapi. Kulitnya putih dan ada tahi lalat kecil di sebelah kiri hidungnya. Ia sedang
duduk-duduk bersama kawannya di depan kamar. “Hai Praz, apa kabar ? semua
baik-baiuk aja kan ??” ujar Joel sembari menaikturunkan alisnya.
Praz menoleh perlahan. Ia tersenyum melihat sosok
sepupunya yang berjalan mendekatinya. Joel memiliki kulit sawo matang dan
rambut berwarna hitam. Badannya tinggi tegap namun agak kurus. “Hiii…sok
perhatian!! Jadi merinding.” Praz mencibir sambil meraba tengkuknya. Joel
mengulurkan tangan kanannya pada Praz dan membantunya berdiri. Kemudian mereka
berdua bersalaman plus cipika-cipiki. “Ada Apa?” tanya Praz dengan wajah malas.
“Sudah dapat kabar dari nenek?” Joel sesekali melirik ke
arah teman sekamar Praz yang tampak dingin. “Nenek? Belum!! Tentang apa?” Praz
memasukkan telapak tangannya ke saku celananya. “Tahun ini adikmu Suzanne akan
masuk ke SCMA.” Joel mengeluarkan secarik foto dari saku celananya. Praz
mengambil foto itu dan mengamatinya dengan seksama. “Ini Suzanne?” Joel hanya
mengangguk.
“Sudah 2 tahun aku tidak pulang ke Saint Laurent. Tahu-tahu si kurus
Suzanne sudah berumur 15 tahun. Tapi…emang bener dia mau masuk ke sini juga??
Bukannya dia ingin masuk akademi negara?” Ekspresi Praz begitu kecut dan seakan
tidak mempercayainya.
“Ya karena ini adalah kewajiban bagi setiap
keturunan komandan besar Centjavles. Dengar-dengar dia juga seorang gunner
lho.” Praz mengerutkan dahi. Joel tersenyum sambil celingukan melihat keadaan
di lorong itu. Sepi. “Gunner? Prestasinya apa?” Joel hanya menggeleng.
#Saint Laurent 07.00 AM
Ini hari pertama Suzanne masuk sekolah. Sekarang cewek berambut
keriting ini sedang duduk di halte bus Saint Laurent menunggu bus jemputan
SCMA. Ia memakai jas formal putih, celana putih, dan dasi putih…so putih, so
bersih. Di sampingnya berdiri tas perjalanan kulit berwarna hitam dan beberapa
tas kecil di atasnya. Rencananya Suzanne akan mengambil jurusan kesehatan dan
pengobatan. Ini adalah satu-satunya keahliannya, jika ia tidak ahli di bidang
ini dapat dipastikan ia tidak akan bisa masuk SCMA.
Bus yang ditunggu akhirnya datang juga. Bus itu mendekat ke pintu
halte dan mendarat dengan 4 rodanya. Roda itu keluar dari sela-sela bemper bus.
Dengan anggun Suzanne mengangkat semua tas-tasnya kemudian menaiki tangga
halte. Pintu haltepun terbuka. Ia bersama beberapa orang lain naik ke bus. Setelah
semua penumpang sudah naik, bus itupun mengeluarkan 4 afronya dan kembali
melayang di udara. Afro adalah salah satu onderdil mobil yang dapat
mengeluarkan angin dan mengendalikan gravitasi terhadap mobil itu.
Di dalam bus ia bisa merasakan semua mata tertuju padanya. Apalagi
alasannya selain karena ia adalah seorang gunner. Gunner adalah sebutan bagi
warrer yang berhasil masuk ke SCMA lewat jalur khusus.
Suzanne duduk di kursi paling depan di sebelah gadis berkacamata.
“Hai…kau gunner ya?” sapa gadis itu ramah. “Darimana kamu tahu?” Suzanne
melongo dan tanpa sadar memperlihatkan wajah dongonya. “Hanya gunner yang sudah
diberi seragam formal saat awal masuk!” gadis itu tersenyum, senyumannya hangat dan
manis. “Jadi?? Kukira semua memilikinya. Malah ku kira aku salah kostum.”
Suzanne tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri. “Dan hanya gunner yang
sudah mendapatkan kelas disaat yang lain menempuh ujian pembagian kelas.”
Suzanne mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali tanda mengerti.
“Gelda...Gelda Ana Sophia.” Gadis berkacamata itu menjulurkan tangan
kanannya. Suzanne terhenyak sesaat dan sesegera mungkin menjabat tangan Gelda.
“Oh…namaku Suzanne Zeeon. Senang berkenalan denganmu.” Sejak saat itu Suzanne
dan Gelda bercengkrama di sepanjang perjalanan.
#Arkcoal 12.05 PM
SCMA terletak di negara bagian Arkcoal yang hijau. Negara bagian ini
jauh dari tekhnologi canggih seperti yang dimiliki negara bagian lain. Arkcoal
adalah pusat pendidikan militer Neraou State, itu sebabnya tempat ini sangat terpencil.
Disepanjang jalan menuju SCMA, para calon warrer disuguhi pemandangan hijau
yang alami. Tidak ada gedung-gedung pencakar langit, tidak ada
kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang, dan tidak ada LCD besar tempat iklan
produk makanan atau minuman.
“Wah ini sih hutan belantara.” salah seorang penumpang bus setengah mengeluh. ‘emang kamu pikir kita mau
shooping!’ ujar Suzanne dalam hati. “Disini ada binatang liarnya nggak ya?”
saut penumpang lain. ‘banyak kali, kamu salah satunya.’ Jawab Suzanne lagi.
“Suzanne sudah pernah ke sini sebelumnya?” Gelda mengalihkan
pandangannya dari jedela bus. Suzanne menggeleng. “Kok kesannya kamu nggak
terkejut melihat pemandangan langka ini. Inikan eksklusif !?” Gelda mengerutkan
dahinya seakan menganggap Suzanne adalah makhluk yang aneh. “Eum…soalnya aku
lagi asyik baca nih!!” Suzanne tak mengalihkan pandangannya dari buku di
tangannya. “Majalah?? Seorang gunner ternyata suka baca majalah fashion?” Gelda
mengerutkan dahi lebih dalam dan senyuman kecil di sudut bibirnya. “He-eh!
Emang nggak boleh? Tahu nggak majalah ini tu edisi khusus tahunan low, jadi aku
harus membacanya.” Suzanne mengepalkan tangannya dan begitu menggebu. Sedangkan
Gelda hanya tertawa garing menanggapi jawaban
itu.
#Lapangan utama, SCMA 12.36 PM
“Satu…dua…tiga…hei, tanganmu yang benar!” seorang feyer berperawakan
tinggi besar berjalan mondar-mandirdi hadapan beberapa warrer yang sedang push
up. Feyer adalah sebutan untuk para guru di akademi ini. Beberapa warrer sedang
dihukum karena keterlambatan mereka. Ada 7 warrer yang menjalani hukuman itu.
Salah satunya ialah warrer dari tingkat 6 bagian strategi perang,
Praz Madden. “Kau! Dalam minggu ini kau sudah di hukum berapa kali?” sang feyer
mengacungkan tongkatnya ke wajah Praz.
“9 Pak!” Praz terus berpush up ria. “Satu minggu hanya ada 7 hari, tapi kau
sudah dihukum sebanyak itu? Apa kata warrer baru jika mengetahui hal ini?”
feyer itu memukul-mukulkan ujung tongkatnya ke kepala Praz. “Jangan
bilang-bilang dong Pak!” warrer lain menahan tawa. “Kamu itu contoh warrer
pemalas! Aku bingung kenapa kamu bisa menjadi gunner waktu itu. Apa karena kau
keturunan komandan besar Centjavles?”
Praz menghentikan push upnya. Wajahnya merah menahan emosi. “Maaf
Mr.Bourgh, tapi jangan bawa-bawa nama kakek saya. Saya menjadi gunner atas
usaha saya sendiri. Saya mendapatkan lencana penghargaan saat menjadi relawan
di gunung Alboras.” Dengan berani Praz menjawab sindiran sang feyer. “Kau!
Pergi dari hadapanku! Kau tidak diizinkan mengikuti kelasku hari ini.” Praz
mengambil jaket seragamnya. “Terimakasih. Sebenarnya saya juga tidak tertarik
pada pelajaran politik nasional bapak. Itu hanya teori yang semua orang bisa
baca di buku.” Praz meninggalkan sang
feyer yang tertohok tak mengerti. ‘benarkah?’ pikirnya dalam hati.
#Hall Room, SCMA 01.20 PM
Joel Neveau berdiri di pintu hall room untuk menyambut kedatangan
para gunner baru. Ini adalah semacam tradisi untuk memperkenalkan sesama gunner
antar angkatan. Satu persatu para gunner memasuki hall room. Jas mereka
berbeda-beda. Hijau untuk bagian tekhnis perang, biru tua untuk strategi
perang, putih untuk kesehatan dan pengobatan, hitam untuk intel/mata-mata, dan
lain-lain. Ada sekitar 25 gunner baru yang memasuki hall room berbentuk
segilima itu.
“Selamat datang para gunner baru…” seorang feyer berseragam soldier
memberi sambutan di atas mimbar. Joel sesekali melirik arloji di tangannya. Ia
tampak sedang gelisah menunggu sepupunya.
“Gunner bukan hanya sebagai suatu kebanggaan. Tugas kalian lebih
berat dari warrer biasa…” pidato sang feyer
menggebu-gebu. Dari kejauhan Joel mendapati sepupunya Praz berlari ke
arahnya. “Eh Brow, darimana? Boker dulu ya?” tanya si Joel sekenanya. “Tadi aku
nyariin seragam ini dulu.” Jawab Praz dengan nafas tersengal-sengal.
“Nah,itu kamu
dapet darimana?”
“Setelah mencari
berjam-jam, akhirnya aku temuin juga di bawah kasurku.” Mata Praz mulai
berpatroli keliling ruangan. “Kasur??”
“Iya, kasur di asrama tipis banget. Jadi aku pake beberapa baju yang
nggak dipake sebagai alas kasur, jadi agak tebalan dikit lah. Lagian nggak
pernah dipake juga.” Jawab Praz tanpa rasa bersalah. “Yuk, kita duduk. Berdiri
aja, kayak tiang listrik.” Lanjut Praz yang kemudian berjalan menuju barisan gunner. “Kasur??”
Joel masih tidak mengerti dengan penjelasan Praz.
“Sst..sst..” Praz memanggil Suzanne yang duduk di deretan paling
belakang. “Hei keriting…! Heh..heh!” bisik Praz lagi karena Suzanne tidak
bergeming. “Hei anak ingusan. Heh bocah lidi!” Suzanne tetap fokus pada
sambutan kepala asrama. “Suzanne..suzanne keriting.” Kali ini suara Praz agak
keras sehingga tidak hanya Suzanne yang menoleh tetapi yang lain juga.
Praz hanya senyum-senyum setelah tahu dirinya diliatin para gunner.
“Apa?” Suzanne menjawab panggilan Praz setelah suasana kembali tenang. “Kamu
gunner juga?” Tanya Praz dengan suara lirih. “Hah? Nggak denger..” Suzanne
meletakkan telapak tangannya di telinganya. “Kamu gunner?” bisik Praz lagi.
“Hah? Bukan..aku ini masuk jurusan pengobatan bukan intel.”
‘GEDUBRAK’ Praz terjatuh dari kursinya. Dengan wajah penuh kekecewaan
ia kembali duduk di kursinya. “Ya tuhan, apa kesalahan keluargaku. Kenapa kami
bisa punya anggota seperti dia.” Bisik Praz lirih. “Hah? Kamu ngomong sama aku?
Iya..tadi aku udah makan.” Jawab Joel yang duduk persis di samping Praz. ????
#Komplek Green House, SCMA 10.09 PM
Udara malam yang dingin menyelimuti SCMA. Suara binatang-binatang
malam bersaut-sautan. Suasana pada malam itu seram sekali. hanya ada beberapa
mobil penjaga yang berlalulalang di depan asrama.
“Gila! Mending tadi aku jaga di dalam asrama aja ya?” keluh Joel
yang berdiri tegap di pos penjagaan Green House. “Nyesel? Tadi siapa coba yang usul
untuk jaga di luar?” Tanya seorang warrer lain. Warrer di hadapan Joel itu
berambut coklat pendek dan badannya kurus. “Ya sih…kalo nggak gini kan kita
nggak akan ketemu. Kitakan beda asrama, ya kan Michele?” Joel tersenyum genit.
“Hii, nggak napsu deh. Tahun ini ada saudaramu yang masuk SCMA ya?” tanya
warrer bernama Michele itu.
“Yo’a…kok tahu?”
“Tahu aja!”
“Sok tahu..”
pembicaraanpun terhenti dan mereka berduapun tertawa.
“Cewek
atau cowok?” tanya Michele kemudian. “Cewek. Jangan naksir lho!” Joel
memicingkan mata seakan mengancam. “Eum…gimana ya? Liat aja entar!” Michele
menjawabnya dengan senyuman mematikan.
No comments:
Post a Comment